Siapa yang mengetahui hakikat suatu penyakit maka ia akan mengetahui dengan tepat obatnya, hal ini tidak diragukan lagi.
Ingin sekali pintar. Kalau kita tau rahasia pintar yaitu dengan belajar, berusaha, doa, dan pasrah. Maka, kita akan melakukannya. Semua orang tau itu.
Ingin sekali menghilangkan malas. Kalau ingin menghilangkan malas bagaimana? Kita memang harus sibuk. Kebanyakan orang malas karena ia tak punya kesibukan yang berarti. Atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Bagimana menyamakan persepsi antara pikiran dan tindakan agar bisa match.
Ketika ngobrol dengan adik kos, ia mengatakan kepada saya. ”Wah, mbak. Memang yang harus menjadi perhatian adalah banyaknya aktivis da’wah yang ia tak memperhatikan masalah tarbiyah dzatiyah. Mereka memang sepertinya enjoy dengan aktivitasnya. Ahli syuro, sms, mabit, dll (Alhamdulillah…). Tapi tentang hafalan Al Qurannya, haditsnya? Sholat malamnya? Puasa? Dluha? Tilawah? Dll?”.
Kadang kita berpikir, kita yang paling berjasa dalam da’wah. Ini adalah penyakit. Kita harus berhati-hati. Seringnya, banyak dari kita membuat cover tersendiri bahwa aktifitas yang kita lakukan adalah aktivitas da’wah. Kalau mau jujur, benarkah aktifitas da’wah? Atau jangan-jangan kita yang memberi label seperti itu. Astaghfirullah… Hanya Allah Yang Mengetahui apa yang ada pada hati kita.
Bagaimana supaya seimbang? Aksi kita untuk terus berkarya dengan ilmu yang harus kita punya untuk karya itu sendiri. Sering kita dengar. Eh, dia tuh ikhwan/akhwat, tapi kerjaannya kalau kuliah, ngantukan, duduk di belakang, lulus lama, telatan, dll. Semoga tidak. Berdasar pengamatan secara umum, banyak dari angkatan saya yang bakalan lulus cepat. Amiiin…
Benar. Apakah kita sering merasa kita sudah banyak ilmu hingga untuk pergi ke kajian saja rasanya males. Pernahkah teman-teman merasakan ketika teman rajin kajian, mencari ilmu, bukan hanya ilmu agama, coba ilmu yang sekarang kamu beli dengan mahar yang tidak murah untuk mendapatkannya di kuliah. Setiap kita menambah dan bertambah ilmu, kita akan semakin sadar, ilmu kita itu masih sangat sedikit, dan harus terus menerus belajar dan mendalaminya lagi. Saya yang merasakan sudah angkatan tua. Rasanya, Ya Allah banyak yang belum saya ketahui tentang statistik yang begitu luasnya. Ingin rasanya mendalami nanti di tempat kerja atau S2 (amiiin…). Begitulah rasanya kalau sudah cinta dengan sesuatu. Cinta dengan pengetahuan hingga ia merasa rugi kalau hari-harinya sia-sia.
Obat yang mujarab adalah dengan Al – Quran. Mau obat fisik, bisa InsyaAllah dengan ijin Allah. Obat pusing atau stress mikir TA/skripsi, bisa. Obat marah, bisa. Obat benci, iri, dengki, bisa mah. Begitu dahsyatnya Al Quran.
Ketika mengikuti Training Kristologi dulu. Ada seorang mualaf yang masih muda. Kisahnya sangat membuat saya khusyuk mendengarnya. Keluarganya yang tidak menyukai keIslamannya berusaha untuk membunuhnya. Sungguh… itu sedikit kisahnya. Mau tau? Dia bener-bener subhanallah. Keyakinannya atas pilihan-pilihan hidup itu membuat saya kagum. Ia pula yang mengatakan awal mulanya masuk Islam karena kekagumannya dengan Al Quran. Al Quran yang benar-benar suci, yang memang sangat berbeda dengan Al Kitab (ingat bukan Injil, karena beda antara Al Kitab dan Injil). Semoga Allah selalu menjaganya. Keseriusannya juga sangat terlihat pada tiap aktivitas-aktivitasnya. Dia bisa membaca Al Quran dalam waktu 7 hari, meski belum dengan tajwid.
Penyakit memang harus diobati. Kalau kita takut akan diketahuinya penyakit dan kita menganggap bahwa adanya penyakit adalah aib atau ujian yang sama sekali tak bisa mengobatinya, jika dibiarkan maka lama-lama kita akan mati karenaya.
Semoga usaha, keinginan-keinginan, mimpi-mimpi yang selalu kita tanamkan dalam hati bukan sekedar dongeng. Tapi ada aksi untuk melangkah lebih baik. Semoga…
Posted by mini